GERAKAN MASYARAKAT HINDU MENOLAK PENGAYOMAN IDEOLOGI DAN ORGANISASI TRANSNASIONAL SAMPRADAYADI PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA (PHDI)

ABSTRAK.          
penelitian ini menunjukkan dampak propaganda dan aksi dari  Gema Hindu yaitu:1) ditujukan untuk mendesak PHDI mencabut surat pengayoman untuk sampradaya Hare Krishna ISKCoN, Sai Baba dan  sampradaya lainnya; 2) berhasil mendapat simpati secara luas dengan adanya dukungan Gubernur, DPRD, Majelis Desa Adat dan PHDI Provinsi Bali dan masyarakat Hindu secara nasional; 3) menghasilkan Surat Keputusan Bersama (SKB) PHDI Provinsi Bali dan MDA Provinsi Bali; 4) menghasilkan tindakan penegakan hukum secara pre-emtif, preventif dan represif dalam pencegahan penistaan agama dan fundamentalisme serta radikalisasi agama di PHDI dan desa adat sebagai bagian dari partisipasi masyarakat dalam pertahanan NKRI dan ideologi Pancasila

I.   PENDAHULUAN               
Gerakan  Masyarakat Hindu (Gema Hindu)  ini  merupakan  manifestasi  adanya  dinamika  interaksi  sosial  disosiatif  berupa  konflik horizontal  antarkelompok  masyarakat  sejak Agustus 2020 hingga April 2021 di Bali. Gerakan ini  ditujukan  agar  penistaan  agama  Hindu ditindak secara hukum dan eksistensi ideologi dan organisasi transnasional sampradaya keluar dari  pengayoman  PHDI. Eksistensi   ideologi   dan   organisasi transnasional  dengan  istilah  “sampradayabernafaskan Hindu” di tubuh PHDI diatur dalam Kesepakatan Bersama pada 3 November 2001, penetapan  pasal  41  AD/ARt  PHDI  hasil Mahasabha VIII  tahun 2016 tentang kerjasama dan  Surat  Nomor: 413/ Parisadha P/IV 2016 ditandatangani Mayjen tNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma selaku ketua harian PHDI Pusat untuk memberikan pengayoman kepada ISKCoN/Hare Krishna. Pada 3 November 2001 PHDI Pusat telah membuat  kesepakatan  bersama  dengan beberapa sampradaya, diantaranya: 1) Yayasan Sri Satya Sai Baba Indonesia; 2)  Dewi Mandir; 3)  Yayasan keluarga Besar Chinamaya Jakarta; 4)  Yayasan Radha Govinda;5)  Guru Dwara Sikh temple;  6)  Paguyubann  Majapahid.    Surat kesepakatan  ini  ditandatangani  ketua  harian PHDI Pusat I Nyoman Suwandha,SH. Dan Bimas Hindu dan Budha Drs. I Wayan  Suarjaya,M.Si.  Dari  beberapa  ideologi  dan  organisasi sampradaya  yang  diayomi  PHDI  ini,  Hare Krishna  dan  Sai  Baba  menjadi  kontroversial akibat adanya polemik atau konflik sosial dalam bentuk penistaan agama dan apropiasi budaya yang ditimbulkan para pengikut atau bhakta. Fakta  menunjukkan  Kejaksaan  Agung  RI menerbitkan Surat Keputusan Kejaksaan Agung RI no 107/ JA/5/1984  (SK 107/1984) tentang Larangan  Peredaran  Barang-Barang  Cetakan yang memuat Ajaran Kepercayaan Hare Krsna di Seluruh Indonesia. Meskipun SK 107/1984 ini masih  berlaku,  namun    pada  kenyataannya, ajaran  Hare  Krishna  ini  disebarkan  kepada masyarakat  melalui  distribusi  buku  agama Hindu disusupkan dalam kurikulum Pendidikan Agama  Hindu  di  sekolah-sekolah  secara nasional. Buku Bhagawad Gita Menurut Aslinya Karangan  Srila  Prabupada  yang  isinya manipulatif karena banyak diubah isinya serta telah disosialisasikan oleh bhakta Hare Krishna/ISCKoN dan bahkan oleh oknum elit PHDI secara luas. Bhakta  Hare  Krishna/ISKCoN  juga mendeskriditkan praktik keagamaan Hindu Bali sebagai  praktik  keagamaan  yang  tidak bersumber dari Veda.

II. TEORI DAN METODE PENELITIAN      Gerakan sosial dapat dipengaruhi oleh faktor individu  dan  sosial.  Faktor  individu  yang mempengaruhi  gerakan  sosial  cenderung bersifat psikologi yang dari penderitaan yang meluas.  Keterasingan  politik,  perasaan  tidak berdaya,  putus  asa,  dan  keterasingan  dari masyarakat dapat juga mempengaruhi individu untuk  berpartisipasi.

III. PEMBAHASAN                 
a.   Gerakan   Masyarakat   Hindu   (Gema Hindu)  Gema Hindu menolak ideologi dan organisasi transnasional sampradaya  di  PHDI    pada awalnya  digerakkan    kelompok  massa  yang didukung oleh Forum Komunikasi taksu Bali dan  taksu  Bali  Dwipa,  Pusat  Koordinasi Hindunesia  (Puskor  Hindunesia),  Gerakan Kearifan Hindu Nusantara (GKHN), Komponen Rakyat Bali (KRB), Amukti Palapa Nusantara (APN),  YJHN,  Cakra  Wahyu,  Brahmastra, sejumlah sulinggih  (pinandita),  warga  Nusa Penida dan relawan  pemerhati Hindu nasional.                                                                                      
b.  SampradayaSampradaya  merupakan  kata  kerja  yang berarti  memberi,  menghadiahi  menyerahkan, menganugrahkan, menurunkan melalui tradisi mewariskan    sebuah    philosofi  melalui parampara  atau  garis  keturunan  yang  hidup dari    para  guru  yang  telah  disucikan    serta mengejawantahkan   dan   meneruskan sampradaya melalui inisiasi (Haryani, 2016).

III. PENUTUP 
Dari fenomena dan dinamika sosial  yang terjadi,  hasil  penelitian  ini  menunjukkan dampak propaganda dan aksi dari Gema Hindu yaitu:1) bertujuan mendesak PHDI mencabut surat  pengayoman  untuk sampradaya   Hare   Krishna  ISKCoN,  Sai  Baba  dan   sampradayalainnya; 2) berhasil mendapat simpati secara luas dengan adanya dukungan Gubernur, DPRD, Majelis Desa Adat dan PHDI Provinsi Bali dan masyarakat  Hindu  secara  nasional  3) menghasilkan Surat Keputusan Bersama (SKB) PHDI Provinsi Bali dan MDA Provinsi Bali; 4) menghasilkan tindakan penegakan hukum pre-emtif, preventif dan represif dalam pencegahan penistaan  agama  dan  fundamentalisme  serta radikalisasi  agama  di  PHDI  dan  desa  adat sebagai  bagian  dari  partisipasi  masyarakat dalam pertahanan NKRI dan ideologi Pancasila.

DAFTAR PUSTAKA                    
I. A. M. Gayatri, “GERAKAN MASYARAKAT HINDU MENOLAK PENGAYOMAN IDEOLOGI DAN ORGANISASI TRANSNASIONAL SAMPRADAYA DI PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA (PHDI)”, ds, vol. 21, no. 1, pp. 105-122, May 2021.



Komentar